Kasih, Aku Ingin Pulang

Kasih, aku ingin pulang 
Kasih, aku tak ingin ini terulang
Kasih, terimalah aku dengan lapang
Bukakanlah pintu yang terang
Walau aku menjalin cinta terlarang

Kasih, bantulah aku melepasnya
Berikanlah tanda cahaya
Walau aku tak mampu membaca
Karena dosa yang tak terkira

Kasih, maafkanlah aku
Yang telah menduakanmu
Bahkan meniadakan kehadiranmu
Apalagi menyertakan agamamu
Hanya karena terbuai cinta palsu

Kasih, aku mengaku salah
Aku beragama hanya karena hadiah
Karena ingin materi melimpah
Rumah dan mobil yang mewah
Pasangan hidup yang wah
Angan yang tak kenal kata sudah

Kasih, aku mengaku salah
Aku mengingatmu hanya ketika lemah
Aku bersimpuh ketika banyak masalah

Kasih, aku mengaku salah
Tak ingat hadirmu penuh rahmah
Dengan segala bentuk berkah
Karena cintaku masih lemah

Kasih, ijinkan aku pulang
Ajari aku untuk mencintaimu
Dalam setiap helaian nafasku
Dengan penuh cinta kepadamu
Tanpa jika, maka dan karena
Aku ingin pulang seutuhnya

8 Januari 2021
Ali Arifin 
dalam ruang rindu

Ayah, Kamu Kemana? Kapan Pulang?

Cerita ini datang dari anak kecil yang kebetulan tempat tinggalnya tidak jauh dari rumah kami. Aka namanya, saat ini dia duduk dibangku taman kanak kanak dan satu ruangan dengan keponakan saya. Kesehariannya, dia sering bermain di rumah kami. Ketika dia terjatuh, tak terdengar tangisannya. Dan ketika meminta sesuatu tidak diberi, tak terdengar rengekannya. Sungguh anak yang tangguh dan tidak cengeng. Bahkan berangkat mengaji di malam haripun berani berjalan sendirian. Dia hebat, berbeda dengan anak-anak lainnya.

Namun ditahun ini awan kelabu menyelimuti Aka. Bahkan menyelimuti seluruh pelosok negeri dan dunia. Dia bersama Ibu dan dua kakaknya ditinggal oleh ayahnya. Bukan pergi untuk sementara, tapi selama-lamanya. Kesedihan itu bertambah ketika detik-detik terakhir ayahnya, mereka tidak bisa menemani. Tidak bisa melihat. Apalagi menyentuh dan merawatnya. Padahal mereka tahu keberadaan dan kondisi kritis Ayahnya. Kenapa? Karena ayahnya dalam perawatan di rumah sakit. Dan diduga terpapar COVID-19 di rumah sakit ketika menjalani perawatan untuk penyakit yang berbeda. Hingga akhirnya meninggal dunia.

Pagi itu para keluarga dan beberapa tetangga melayat kerumahnya. Terlihat sosok pria kecil yang tetap tangguh dengan sedikit bekas air mata. Tak ada jenazah ayahnya disana. Karena sesuai dengan protokol COVID-19, prosesi pemakaman langsung dari rumah sakit menuju makam tanpa harus ke kediaman terlebih dahulu. Semuanya ditangani oleh petugas. Dia dan kakak-kakaknya hanya bisa termenung. Dia duduk di teras rumah, sembari melihat orang-orang ber-masker yang lalu lalang ke rumahnya untuk mendoakan kepergian ayahnya.

Pastinya semua ini tidak pernah terlintas dibenak pikirannya. Tidak pernah terbayangkan bahwa semua ini akan terjadi. Ayah yang biasanya menemaninya bermain, memberi makan ayam kalkun dan burung piaraannya kini tiada. Ayah yang biasanya mengajak dia naik motor berkeliling melihat sawah, kini telah pergi dan tak pulang kembali. Tak ada lagi sosok ayah yang membawakan mainan baru seperti biasa. Tak ada lagi Ayah yang selalu menimang-nimangnya.

“Ayah, Kapan Kamu Pulang? Ayah Kamu Kemana?”

Pertanyaan dengan nada lirih itu keluar dari mulut mungil Aka ketika melihat foto ayahnya. “Ayah lagi mengaji ditempat jauh.” Sahut ibunya dengan jawaban yang sering digunakan oleh orang tua untuk menjawab pertanyaan anak kecil ketika orang tua atau keluarganya meninggal. Jawaban khas orang Jawa Tengah, Yogyakarta dan sebagian Jawa Timur.

Sungguh berat bagi seorang anak yang selalu merindu kehadiran orang tuanya. Kehadiran orang-orang tercinta disekelilingnya. Bahkan mereka tidak rela jika ditinggal sebentar saja. Apalagi selama-lamanya. Kita doakan untuk Aka sekeluarga dan Aka Aka lainnya di dunia ini, semoga selalu dilimpahkan kesehatan, kesuksesan dan kebahagiaan serta kemakmuran. Syukur-syukur kita bisa berbagi dan memberikan kontribusi pada hidup mereka.

Untuk Keluarga Kita

Man-teman, bukan bermaksud untuk menggurui kalian semua yang sudah dewasa, yang sudah berkeluarga ataupun yang baru akan melangusngkan pernikahan. Tapi ini harus kita pikirkan tatkala terbersit niatan untuk meninggalkan rumah, apalagi bercerai. Ingat, ada anak-anak yang selalu menantimu. Anak-anak yang sangat menyayangimu. Dan bahkan mereka selalu menengok depan rumah tatkala terdengar suara motor atau mobil. Dalam pikirannya, “Siapa tahu itu Ayah, siapa tahu itu Mama.” Mereka selalu menanti kalian.

So, pesan kita bersama buat kalian yang sedang mendapat ujian dalam berumah tangga, jangan sampai berpisah dan menyiksa anak kalian. Mereka butuh kehadiran kalian. Tanggalkan ego dan emosi diantara kalian suami istri. Semua pasti ada jalannya, jika kita selalu berusaha mencari yang terbaik, tanpa mencari siapa yang salah dan siapa yang benar. Dan mendekat kepada Tuhan. Allah SWT.

“Kita hanya boleh meninggalkan anak-anak dan pasangan kita, ketika memang benar-benar tidak ada peluang untuk pulang. Dan syaratnya satu, yaitu kematian.”

— Ali Arifin

Corona Masih Tinggi, Jangan Abai!

Man-teman, sampai saat ini COVID-19 di Indonesia angkanya masih cukup tinggi. Jujur aja, ngeri-ngeri sedap ngelihatnya. Sampai saat ini angkanya sudah tembus lebih dari setengah juta. Dan Ina khawatir di bulan Desember ini semakin meningkat tajam. Kenapa? karena ada hari libur dan cuti bersama. Sebenernya, libur dan cuti bersama tidak menjadi masalah. Asalkan kita memiliki kesadaran bersama akan bahaya penularan COVID-19 dan mampu saling menjaga dengan mematuhi protokol kesehatan. Juga selama hari libur, kita tidak memaksakan diri untuk berwisata ketempat-tempat yang abai dengan protokol kesehatan. Syukur-syukur tetap dirumah dan tidak bepergian. Itu lebih mulia.

Corona Masih Tinggi, Jangan Abai!
Photo by cottonbro on Pexels.com

Pertanyaannya, “Apakah kesadaran kita masyarakat Indonesia terkait COVID-19 sudah terbangun dengan baik?” coba kita pertanyakan pada diri kita masing-masing dengan melihat realitas yang ada saat ini. Rasa-rasanya kok kesadaran itu belum terbangun. Mungkin di tempat-tempat tertentu protokol kesehatan bisa berjalan dengan baik, dengan kesadaran yang tinggi. Tapi disisilain juga masih sangat banyak yang abai.

Ayolah Man-teman kita mulai dari diri kita untuk saling menjaga, minimal gunakan masker, cuci tangan, jaga jarak. Dan patuhi protokol kesehatan yang ada. Kalau bukan dimulai dari diri kita, siapa lagi? Semoga dengan itu, penularan COVID-19 segera dapat terkendali, walaupun tidak bisa hilang 100%. Teriring doa, semoga Man-teman sekeluarga dan orang-orang yang dicintai, selalu terjaga dan terhindar dari penularan COVID-19. Aamiin

Salam Sehat Bahagia,
Ina

# Tes Kepribadian 1

Teman-teman pernahkah terlintas dibenak kalian untuk mengetahui kepribadian dirimu sendiri atau bahkan pasanganmu? Kalau iya, kalian bisa jawab pertanyaan sederhana berikut ini. Oh ya, tidak ada jawaban yang salah. Semua jawaban benar. Perhatikan pertanyaannya baik-baik dan jawab sejujur-jujurnya sesuai dengan keyakinan dirimu.

tes kepribadian, kepribadian
Photo by Daisy Anderson on Pexels.com

Tes Kepribadian 1

Suatu hari ada seekor ayam berwarna hitam yang masuk dari jendela rumahmu. Kamu sangat ingin memelihara ayam itu. Namun, di hari kelima ternyata si ayam berubah warna menjadi kuning. Selanjutnya di hari keenam, ia berubah menjadi merah, dan di hari ketujuh berubah menjadi hitam. Pertanyaannya, di hari kedelapan, warna si ayam akan berubah menjadi warna apa?

a. Tetap hitam
b. Berubah menjadi biru
c. Berubah menjadi putih
d. Berubah menjadi emas

Okay, pasti kalian semua sudah memiliki jawaban dari pertanyaan diatas. Ada yang menjawab a, b, c, atau d. Atau bahkan ada yang memilih jawaban e? He…. saking semangatnya jadi milih e, padahal tidak ada. Intinya semua jawaban kalian benar entah itu a, b, c atau d.

Mari kita buka dan bahas satu persatu untuk setiap jawaban kalian dengan klik “buka jawaban” dibawah ini. Deng…dengg…deng… dengg…! Jreng!

Lanjutkan membaca “# Tes Kepribadian 1”

Semua Ada di Pikiran?

Assalamualaikum, selamat malam teman-teman semua. Terima kasih kalian masih setia membersamai blog sederhana ini. Malam ini Saki ingin menyampaikan sebuah kutipan dari buku yang sangat bagus yaitu “Think and Grow Rich” karya Napoleon Hill. Berikut ini bait kutipannya ;

Jika kau pikir kau kalah, kau kalah,
Jika kau pikir kau tidak berani, kau tidak berani
Jika kau ingin menang, tetapi berpikir kau tidak bisa,
Hampir pasti kau takkan bisa.

Jika kau pikir kau akan kalah, kau sudah kalah
Karena di dunia kita tahu,
Sukses berawal dari kemauan orang
Semua ada di pikiran.

Jika kau pikir kau kalah kelas, kau kalah kelas,
kau harus berpikir tinggi untuk naik,
Kau harus yakin pada dirimu sendiri
Sebelum kau mampu memenangkan hadiah.

Kemenangan dalam kehidupan tidak selalu berpihak
Kepada yang lebih kuat atau lebih cepat
Karena cepat atau lambat pemenangnya adalah
Mereka yang berpikir dirinya bisa!

Setelah membaca kutipan diatas tentunya teman-teman bisa menarik benang merahnya. Kira-kira akarnya ada dimana? Jawab dalam hati masing-masing.

persiapan pernikahan, pikiran pernikahan

Bagi teman-teman yang sedang ingin mempersiapkan pernikahan, memiliki harapan, cita-cita dan impian tentang keluarga idaman ataupun yang lainnya tetapi belum tercapai dan tidak sesuai harapan jangan takut. Kita pasti bisa. Kita mulai berbenah. Kita mulai dari pikiran kita. Secara bertahap akan Saki & Ina bahas dalam konten-konten berikutnya.

Sekian dulu teman-teman. Memang sengaja postingan ini dibuat singkat. Harapannya agar kita bisa memaknai secara lebih dari apa yang sangat singkat ini. Semoga bermanfaat, kita akan bahas kembali pada post berikutnya. Dan karena masih banyak konten menarik lainnya, dan agar teman-teman tidak terlewatkan, maka bisa langsung subscribe blog, youtube dan follow instagram sakina.id. Big thanks.

Salam Muda Bahagia Sejahtera!
Sakina.id